Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA: Cintailah Allah dengan Cara Mencintai Hamba-hamba-Nya

  • Whatsapp

MOJOKERTO (AmanatulUmmah.com) – Cintailah Allah dengan cara mencintai hamba-hamba Allah dan lebih luas lagi mencintai semua makhluk ciptaan Allah. Dan hindarilah perbuatan-perbuatan maksiat, sebab itu akan membawa kita ke neraka jahanam.

Bacaan Lainnya

Hal ini dikatakan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Surabaya dan Mojokerto, pada pengajian kitab kuning di depan ribuan santri Madrasah Aliyah Amanatul Ummah.

“Jadi kalian anak-anakku, harus rukun sama teman-temannya. Harus saling menjaga, saling tolong menolong. Bila ada perselisihan, segera selesaikan. Mudahlah untuk memberi maaf,” jelas Kiai Asep di pagi hari, di halaman MA Amanatul Ummah, Kamis (23/2/2023).

Lebih lanjut, Kiai Asep juga mengatakan, kepada para tetangga juga harus berbaik hati. Utamakan hak-hak tetangga. Misalnya, bila akan menjual tanah, maka penawaran pertama harus diberikan kepada tetangga terdekat. “Mereka lebih berhak untuk membeli. Bila tetangga tak ada niat membeli, baru di tawarkan ke orang lain,” jelas Kiai Asep.

Santri mendengar ceramah Kiai Asep.

Yang perlu diperhatikan, bila ada teman yang kesusahan, bantulah. Bila ada orang mengurus sesuatu, dan kamu berwenang menanganinya, maka permudahlah. Jangan dipersulit. Maka Allah juga akan memudahkan usrusanmu nanti. 

Sebagian ulama berpendapat, cinta kepada Allah memiliki 10 arti, bila dilihat dari segi seorang hamba yang mencintai-Nya. 

Pertama, hamba meyakini sesungguhnya hanya Allah ta’ala yang dipuji dari sudut manapun dan dipuji dengan setiap sifat dari sifat-sifat-Nya.

Kedua, hamba meyakini Allah adalah Dzat yang berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya dan Dzat yang memberi nikmat dan anugerah kepada mereka.

Ketiga, hamba meyakini perbuatan baik Allah kepadanya tidak dapat dibandingkan dengan ucapan atau perbuatan baiknya, meskipun sempurna dan banyak. 

Keempat, hamba meyakini hukum-hukum Allah dan tuntutan-tuntutan-Nya itu sedikit baginya.

Kelima, dalam setiap waktu, hamba selalu merasa takut jika berpaling dari Allah ta’ala dan merasa takut jika kemuliaan yang Allah berikan kepadanya seperti makrifat, tauhid, dan yang lainnya akan hilang dari dirinya. 

Keenam, hamba melihat dalam setiap keadaan dan pikirannya selalu membutuhkan Allah dan tidak bisa merasa tidak butuh Allah.

Ketujuh, hamba selalu menyebut atau berzikir Allah dengan zikir yang terbaik sesuai dengan kapasitas kemampuannya. 

Kedelapan, hamba sangat senang melaksanakan ibadah-ibadah fardhunya dan senang mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah sesuai dengan kapasitas kemampuannya.

Kesembilan, hamba merasa senang jika mendengar orang lain sedang memuji Allah dan beribadah kepada-Nya serta senang melihat orang lain berjuang di jalan-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan dengan bentuk perjuangan mengorbankan diri dan harta. 

Kesepuluh, jika hamba mendengar orang lain berzikir kepada Allah maka dia akan menolongnya.

“Jangan sebaliknya, justru senang melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Suka marah, suka bermusuhan, suka menganiaya orang lain. Bermabuk-mabuk, bermain perempuan, karaoke tanpa tahu waktu sholat, dan sebagainya,” ingat Kiai Asep. 

“Ingat anak-anakku, itu semua adalah jalannya syetan. Dan itu jalan menuju neraka jahanam. Naudzu billa mindzalik!” ingat Kiai Asep lagi. 

“Mulai lah tolong menolong dengan teman, bermurah hati, jangan pelit, saling berbagi. Bila kalian saling mengasihi, saling menyayangi pada teman, maka sesungguhnya kalian sudah mencintai Allah. Dan Allah akan ridloh serta mencintai kalian,” pungkas Kiai Asep. (Moch. Nuruddin)

iklanMAI

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *